Translate

Kamis, 30 Desember 2010

info catering & wedding Organizer

CIS Catering Ibu Supardi

SELAMAT DATANG Di Layanan Informasi CIS Catering Ibu Supandi .................



Untuk Pemesanan Hubungi : No Telp 0274-383229, 7418829, 7001425,

08164228957.

Kami siap melayani yang anda perlukan dalam profesi kami.

Alamat : Jl. Purbayan KG III RT 55/XIII
Kotagede Yogyakarta 55173

http://cateringibusupardi.com/
wedding organizer

Jumat, 03 Desember 2010

My Wedding Dan Wejangannya

Ananda kedua mempelai yang tersayang.Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi ananda berdua, karena cinta kasih yang murni telah berpadu di dalam hatimu berdua. Telah diresmikan perpaduan itu di dalam jalinan perkawinan yang sudah lama anda idam-idamkan.

Perkawinan itu memang suatu acara ibadah Islam yang amat menggembirakan khususnya bagi mempelai berdua dan umumnya bagi keluarga serta handai taulan terdekat bagi yang bersangkutan.

Di sini kita mengayubagyo terhadap mempelai, berharap semoga keluarga baru itu sukses, selalu bersyukur atas terselenggarakannya pernikahan dan berpikir panjang tentang langkah-langkah kehidupan baru tersebut. Jadi disinilah berkumpul hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang melelahkan otak. Karena itu, seorang bijaksana bilang yang artinya : Perkawinan adalah salah satu bentuk lotre.

Mengingat itu semua, maka akad nikah selalu ditutup dengan do’a, semoga awal yang berbahagia ini akan berakhir dengan bahagia dan berjalan dengan penuh bahagia juga. Amien!

Selain berfungsi biologis, nikah juga berfungsi sosial. Nikah itu benar-benar merupakan awal hidup baru, situasi baru, pandangan baru, dan orientasi baru. Situasi kehidupannya menjadi terasa lebih mantap, mapan, tidak canggung, dan jelas arah hidupnya, di samping berbagai harapan baru bermunculan, juga berdatangan berbagai kesulitan yang bertubi-tubi, bahkan yang semula tak terlintas sama sekali.

Oleh karena itulah Allah menjamin bahwa dengan nikah itu akan timbul ketenangan yang hal ini menjadi kunci segala kesulitan. Tinggal kita sendiri dapat atau tidakkah menggapai hikmah yang besar itu? Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : “Dan diantara tanda-tanda kebesaran Allah yaitu Beliau menciptakan untuk kalian pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu tenteram bersamanya, dan dijadikan rasa kasih dan sayang diantara kamu.”

Inilah salah satu hikmah terbesar dalam nikah tersebut.

Berdasar itu semua, agama menganjurkan agar pernikahan itu menjadi ibadah hendaknya diniyati mengikuti Sunnah Rasul. Berarti bukan sekedar dorongan biologis dan nafsu birahi.

Dengan niat suci tersebut dalam realisasinya dapat dikembangkan menjadi berfungsi syi’ar Islam atau pengembangan sayap kerukunan secara lebih luas dalam masyarakat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita sendiri, atau berfungsi sebagai pengikat keakraban yang lebih intim, sebagaimana yang dilakukan oleh Iskandar Dzulqarnain atau Alexander Maqduni. Setelah berhasil dengan penaklukan besarnya di negeri-negeri Asia, beliau mengawini puteri Raja Darius.

Pernikahan yang dilakukan atas dasar dorongan biologis, sesungguhnya kurang bermakna, karena tidak akan pernah membawa kepuasan dan dengan demikian ketenangan tidak pernah kunjung tiba, yang ada hanya kurang puas, ingin yang lain, ingin coba ini dan itu.

Di kala Siti Fatimah, puteri Nabi akan dimadu oleh suaminya Ali bin Abi Thalib, maka dengan serta merta Nabi menyatakan : “Kalau anakku Fatimah engkau madu, lebih baik ceraikan saja.” Mungkin sekali Nabi melihat bahwa kehendak Ali ini terdorong oleh nafsu birahi, ini bukan karena bermadu itu terlarang dalam Islam, tetapi perlu dilihat lebih dahulu latar belakang apa sebabnya sehingga perbuatan ini terpaksa dilakukan.

Sebagaimana tadi yang telah saya terangkan tadi bahwa: “Perkawinan adalah suatu bentuk lotere, jadi kadang-kadang undiannya beruntung dan kadang-kadang gagal.” Kami yakin, asalkan ananda berdua rukun saling pengertian, saling menyayangi, dan saling bantu membantu, Insya Allah akan mendapatkan jalan keluar yang menggembirakan. Ambil filsafah burung merpati “Anggone rukun mesra-mesraan” : Nek sing wedhok ngendog, sing lanang gantenan ngangkremi, ugo nek endhog wis netes metu piyik, gantenan nglolohi. Ojo pisan-pisan nyontoh filsafah pitik : Nek babone wis ngendog, jagone nggolek yang-yangan maneh. Luwih-luwih, wal ‘iyadlu billah, ojo niru coro bebek, nek wis ngendog, lanange-wadone ora tanggung jawab, emoh ngangkremi.

Kedua: Dalam menatap kehidupan, pada umumnya lelaki lebih memerankan pikiran, sedang wanita lebih memerankan perasaan atau emosi, karena itu seorang lelaki biasanya mudah mengabaikan hal-hal yang kelihatan kecil dan orang wanita mudah marah dan iri hati terhadap tetangga, dalam hal ini ananda sebagai suami harus jangan membikin suasana tegang. Tapi buatlah suasana rumah tangga selalu cerah dan santai tetapi berwibawa. Imam Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin menyebut salah satu adab pergaulan suami-istri ialah : “Hendaklah suami suka mengajak kelakar dan bergurau dalam rangka meringankan tanggungan beban moral rumah tangga, karena gurauan dan rayuan itulah yang mampu menghibur hati wanita.” Disebutkan dalam hadits Nabi yang artinya : “Adalah Rasulullah itu orang yang banyak bercanda dan bergurau dengan permaisurinya”. HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dalam kenyataannya, Nabi pernah balapan dengan Siti Aisyah permaisurinya tersayang, terkadang Nabi menang dan terkadang Aisyah yang menang.

Demikian inilah cara bergaul dengan istri, meskipun ananda tidak harus balapan lari, tapi bisa saja balapan apa-apa di dalam kamar.

Ketiga : Ananda sebagai istri harus membawa penampilan yang menarik hati kakanda. Misalnya baru pulang kerja, badan penat, dan mungkin di jalan tadi sempat melirik jin-jin wanita yang berlagak. Maka ananda harus menyambutnya dengan penuh menyenangkan dan roman muka yang berseri, juga tutur kata yang mesra dan penampilan yang mempesona. Bagi lelaki dalam situasi lelah, sesungguhnya lebih memerlukan santapan rohani daripada santapan jasmani.

Demikianlah petuah yang senada dengan hadits Nabi yang artinya : “Sebaik-baik istri kalian ialah yang jika dipandang suaminya menyenangkan, jika diperintah mematuhi dan jika suami tidak berada di rumah, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan harta suaminya.”

Keempat : Untuk lebih memesrakan pergaulan, maka bermanja-manja itu diperkenankan dalam Islam, asal saja secara terbatas dan hanya hubungan suami istri. Nabi bersabda yang artinya : “Pilihlah yang masih gadis, engkau dapat mempermainkannya dan dia juga dapat mempermainkanmu” HR. Bukhori-Muslim. Wah…!! hadits ini hadits mana tahaaan!! Ternyata hadits ini dikatakan oleh Imam Ghazali dalam kaitannya dengan kebolehan bermanja-manja tersebut. Kalau kita cermati lebih jauh, maka diketahui bahwa sikap manja itu diperbolehkan sampai dalam batas saling mempermainkan. Lebih jauh Sayyidina Umar R.A. yang keras itu menyatakan yang artinya : “Suami itu jika di rumah (pergaulannya dengan istri) seyogyanya bersikap seperti anak kecil, dan jika diperlukan orang lain baru menunjukkan kebolehannya sebagai lelaki dewasa”

Kelima : Sikap cemburu itu dianjurkan oleh Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits yang artinya : “Sesungguhnya aku ini pencemburu, dan barang siapa yang tidak mempunyai rasa cemburu, maka orang itu senewen!” Tapi cemburu yang berlebih-lebihan adalah dilarang oleh agama, sebab berarti buruk sangka dan tidak percaya kepada suami atau istri. Oleh karena itu Nabi bersabda dalam hadits lain yang artinya: “Sesungguhnya diantara bentuk cemburu ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburunya istri atau suami dalam hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan” HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban.

Keenam : Akhirnya kedua-duanya supaya saling cinta-mencintai, Karenanya SAPTA BUDIONO harus menganggap tidak ada wanita yang cantik dan molek mempesona melainkan hanya PURWANINGSIH seorang. Dan PURWANINGSIH menganggap tidak ada pria yang tampan sedap dipandang mata melainkan hanya SAPTA BUDIONO jua. Kedua-duanya sudah menutup pemilihan jodohnya. PURWANINGSIH adalah pendamping yang tercinta, dan SAPTA BUDIONO adalah suami yang bijaksana tempat penggantungan jiwa, tanpa PURWANINGSIH hidup tiada berarti, dan tanpa SAPTA BUDIONO hayat bagaikan mati, nasi terasa segam, air terasa duri.

Hadirin sekalian! Sesungguhnya masih banyak yang akan kami sampaikan di sini, tetapi saya kira pengantinnya setelah mendengar wejangan-wejangan saya yang mana tahan ini, koq sudah senggol-senggolan. Maka terpaksa kami cukupkan sekian saja dan selanjutnya anda berdua supaya berdiskusi sendiri tentang apa yang harus dilakukan di malam hari, terutama do’a apa yang harus dibacakan kalau mau tidur, atau kalau mau apa-apa!!

Demikianlah apa yang bisa kami samapaikan kali ini, semoga bermanfaat bagi pengantinnya dan untuk kita semua “Para bekas-bekas pengantin agar dapat bernostalgia kembali”

Sekian, kurang lebihnya minta maaf.

Ya Allah, berkahi kedua mempelai ini, himpun mereka berdua dalam kebaikan dunia akhirat. Jadikan kehidupan mereka berdua kehidupan yang baik dan bahagia, kehidupan penuh kasih dan sayang, kehidupan mawaddah dan rahmah, kehidupan yang tenang dan sejahtera, kehidupan yang penuh nikmat dan lapang. Ya Allah, jadikan mereka berdua termasuk dalam hamba-hambaMu yang mukmin, sholeh, muttaqi, yang berdaya guna bagi Islam dan muslimin. Allah mencurahkan kasih rahmatNya untuk sayyidina Muhammad, seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta,
KH. Ali Maksum

Selasa, 23 November 2010

PERSIAPAN PRA NIKAH

Artikel ini diambil dari sebuah Kajian Muslimah via YM beberapa waktu yang lalu, tp baru sekarang ada kesempatan buat posting. Semoga bermanfaat bagi yang mau menikah yah...

Menikah? Siapa Takut

Wulan sedang bingung. Pasalnya pernikahannya hanya tinggal satu pekan lagi. Seluruh persiapan sudah dilakukan, dari mulai mengurus surat nikah, sampai pernak-pernik pesta perkawinan. Tapi ada yang mengganjal dalam pikiran Wulan. Ada rasa khawatir yang tidak ia ketahui sumbernya. Berbagai masukan dari keluarga tentang tata cara dan perlengkapan pesta perkawinan, yang berbeda dari keinginannya juga sering membuat tensi Wulan naik. Belum lagi, pengetahuannya tentang dunia perkawinan masih sangat terbatas sekali, membuatnya semakin nervous menghadapi pernikahan.

Lain lagi dengan Narti. Setelah sekian lama melajang, akhirnya datanglah sang pangeran untuk melamarnya. Sebenarnya Narti sudah membaca banyak buku tentang perkawinan. Ia juga memiliki banyak teman yang sudah menikah dan memiliki anak juga yang membuat ia faham tentang dunia pernikahan dan pernak-perniknya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya khawatir, sanggupkah ia menjadi isteri dan ibu yang baik bagi keluarganya. Apakah ia mampu berbagi segala hal dengan suaminya kelak, sedangkan saat ini ia sudah terbiasa mandiri. Mengurus semuanya sendiri. Tiba-tiba ia jadi takut menghadapi pernikahan yang sudah semakin dekat.More...

Banyak orang yang bingung ketika menghadapi pernikahan. Ada yang sibuk mempersiapkan pernak-pernik pernikahan dan pesta pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan ilmu, mental dan spiritual dalam menjalaninya. Meskipun setiap orang tahu bahwa pernikahan adalah ibadah, menggenapkan setengah agama, tetapi karena kesibukan persiapan perlengkapan nikah dan pestanya sering membuat nuansa ibadah dalam pernikahan tersebut terlupakan.

Ada beberapa persiapan yang perlu dihadapi menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan, persiapan ruhiyyah menjelang pernikahan serta persiapan fisik sebelum menikah.

1. Persiapan Ilmu tentang pernikahan

Hal yang perlu dipersiapkan adalah memperjelas visi pernikahan. Untuk apa kita menikah. Visi yang jelas dan juga sama antara calon suami dan isteri insya Allah akan melanggengkan pernikahan.

Banyak orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti tradisi masyarakat. Bisa juga karena malu karena sudah cukup umur tetapi masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-alasan seperti ini tidak memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai rumah tangga datang menerjang.

Sebagai muslim yang memiliki rujukan hidup yang jelas, tentu kita tahu bahwa menikah itu karena ibadah. Visi pernikahan dalam Islam adalah menimba banyak pahala melalui aktivitas berumah tangga. Menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka, dan akhirnya berusaha meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bila seseorang memiki visi seperti ini insya Allah hari-hari yang dilaluinya setelah menikah akan berusaha dihadapi sesuai dengan hukum-hukum Islam.

Ilmu yang lain yang harus diketahui adalah tentang hukum-hukum pernikahan. Seperti tentang rukun nikah, yaitu mempelai pria dan wanita, dua orang saksi, wali dari pihak perempuan dan ijab kabul. Bila sudah terpenuhi semuanya, insya Allah pernikahan menjadi sah secara agama.

Lalu kewajiban memberi mahar sesuai yang diminta oleh pihak wanita. Lalu masalah walimatul ursy (pesta pernikahan). Tradisi-tradisi daerah bukanlah hal yang wajib untuk dilakukan. Bahkan sebisa mungkin dihindari tradisi yang bertentangan dengan aqidah Islam. Lalu juga mempermudah semua proses pernikahan adalah lebih utama. Juga menyederhanakan pesta pernikahan, tidak bermewah-mewah lebih baik dalam pandangan Islam.

2. Persiapan mental/psikologis menghadapi pernikahan.

Pernikahan adalah kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Dalam pernikahan berkumpul dua pribadi yang berbeda yang berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan yang berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat asli masing-masing. Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi segala kekurangan pasangan adalah hal yang mutlak diperlukan. Begitu juga cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan kita dengan baik kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak mewarnai rumah tangga kita.

Di dalam pernikahan juga diperlukan rasa tanggung jawab untuk untuk memenuhi hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-haknya saja, tetapi berusaha untuk lebih dulu memenuhi kewajibannya.

Pernikahan merupakan perwujudan dari tim kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu kerja sama, saling mendukung dalam segala hal sangat diperlukan. Termasuk dalam pendidikan anak. Pernikahan juga merupakan sarana untuk terus menerus belajar tentang kehidupan. Ketika memasuki dunia perkawinan seseorang belajar untuk menjadi bagian dari tim kehidupan. Ketika memiliki anak seseorang belajar untuk mendidik anak dengan cara yang baik. Tidak jarang juga orang tua perlu memaksa diri untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya agar tidak ditiru oleh anak. Ketika anak-anak menjelang dewasa orang tua belajar untuk menjadikan anak-anaknya sebagai teman, sebagai bagian dari tim kehidupan yang aktif menggerakkan roda kehidupan, dan seterusnya.

3. Persiapan Ruhiyyah/ spiritual.

Menikah itu ibadah, oleh karena itu seluruh proses yang dilalui dalam pernikahan itu harus dengan nuansa ibadah. Proses sebelum menikah sampai pernikahan itu sendiri juga setelah menikah tidak boleh jauh dari nuansa penghambaan diri kepada Allah. Sebelum menikah peningkatan kualitas diri dan kualitas ibadah mutlak diperlukan. Berdoa kepada Allah untuk mendapatkan suami yang sholih dan anak-anak yang akan menjadi penyejuk mata.

Bergaul dengan orang-orang yang sholih yang dapat menjaga dien kita juga perlu dilakukan. Membaca buku-buku tentang keutamaan pernikahan juga perlu dilakukan untuk menguatkan niat kita dalam menikah.

Ketika pinangan datang, ibadah semakin dikencangkan. Terus memohon kepada Allah untuk mendapatkan yang terbaik sebagai pasangan kita. Saat ini, perlu juga kita membersihkan hati agar niat ibadah dalam pernikahan ini tidak menyimpang. Juga menjaga kesucian hubungan kita dengan calon suami sampai datangnya waktu pernikahan sangat diperlukan, agar tidak terjatuh dalam godaan setan.
Masa-masa antara meminang dan pernikahan ini sebaiknya dipersingkat agar kebersihan niat dan hubungan kedua insan bisa terjaga.

4. Persiapan Fisik

Yang terakhir yang tidak kalah penting dalah mempersiapkan tubuh kita untuk memasuki dunia pernikahan. Mengetahui alat-alat reproduksi wanita dan cara kerjanya sangat penting bagi kita.

Memeriksa kesehatan alat-alat reproduksi juga penting agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan setelah menikah.
Selain itu juga kita harus mengetahui tentang seks yang sehat. Banyak ornag yang sudah menikah tapi tidak tahu bagaimana berhubungan seks dengan sehat dan menyenangkan bagi masing-masing pasangan.
Hal ini penting karena merupakan bagian dari kunci kebahagiaan dalam berumah tangga.

@from Kajian Muslimah